Aturan DP Rumah Indonesia Makin Mudah, Bagaimana dengan Industri Properti?

0
(0)

Dilansir dari Kompas, Bank Indonesia kembali membuat keputusan untuk menurunkan suku bunga acuan Bank Indonesia yang memberikan imbas positif terhadap DP rumah yakni 7 day Reverse Repo Rate (BI7DRR) sebesar 25 bps menjadi 5,25%. Selain itu, bank sentral juga membuat kebijakan kelonggaran aturan Loan to Value (LTV) dan Finance to Value (FTV) untuk urusan pembiayaan kepemilikan property baik untuk rumah tapak, rumah tinggal atau rumah toko dan rumah kantor.

Dengan adanya kebijakan tersebut, pihak bank bisa leluasa dalam mengambil resiko untuk menyalurkan kredit dan memberikan keringanan batas minimum untuk uang muka (Down Payment) sehingga, KPR bisa lebih ringan, apakah demikian?

Baca juga: Lebih baik cicil rumah atau kontrak rumah?

DP Rumah murah, aman atau berbahaya?

Keputusan ini berimbas positif bagi setiap orang yang ingin membeli rumah dengan KPR. Hal ini diakui oleh Country Manager Rumah.com, Marine Novita. Ia mengatakan bahwa kebijakan ini dapat memudahkan orang dalam membeli hunian dengan sistem KPR.

Namun, hal ini tidak lantas membuat tingkat kepuasan orang terhadap harga hunian saat ini meningkat. Menurut data Rumah.com, Property Affordability Sentiment Index H2 2019, iklim industri properti Indonesia menurun dari 34% menjadi 31%.

Ada beberapa faktor yang menyebabkan orang-orang menjadi tidak puas seperti, suku bunga yang tinggi, harga hunian yang tidak masuk akal, sistem pembiayaan yang kurang bagus, dan kondisi ekonomi yang belum membaik.

Jika dilihat, hal ini bisa memberikan keuntungan dan kerugian. Dari segi keuntungan, hal ini bisa dilihat sebagai peluang untuk investasi. Namun, hal ini juga bisa dilihat sebagai sebuah masalah yang mendatangkan kerugian di masa yang akan datang.

Baca juga: Peluang investasi properti Indonesia tahun 2019

Meski terbilang tinggi, hal ini justru tidak memberatkan masyarakat menruut Marine. Ia menilai, suku bunga yang berlaku sekarang lebih rendah dari tahun-tahun sebelumnya terutama pada tahun 2015. Karena itu, masyarakat diharapkan bisa menunggu pemberlakuan kedua keputusan tersebut secara efektif agar membantu orang-orang dalam membeli hunian yang tepat.

Informasi ini membantu orang-orang yang sedang mencari hunian yang tepat. Harga yang murah bukan faktor terpenting dalam membeli rumah. Faktor terpenting adalah mengumpulkan informasi dan melakukan penimbangan mengenai rumah yang cocok bagi mereka sehingga, mereka bisa mengambil keputusan yang tepat.

How useful was this post?

Click on a star to rate it!

We are sorry that this post was not useful for you!

Let us improve this post!

Tell us how we can improve this post?

Leave a reply:

Your email address will not be published.

Site Footer