Bibit, Aplikasi Reksadana

Kenapa Resiko Reksadana Jauh Lebih Kecil Dibanding Investasi Saham Lainnya?

0
(0)

Di Indonesia, investasi reksadana menunjukkan tren yang positif. Semakin hari, semakin banyak orang yang mulai meninggalkan kehidupan yang boros demi menabung untuk kebutuhan masa depan. Hebatnya lagi, melakukan penanaman uang bukan menjadi kegiatan buat para orang tua saja melainkan juga para generasi milenial.

Deputi OJK, Halim Haryono mengatakan jika 4 tahun lalu investasi di Indonesia menunjukkan angka yang stagnan yaitu 350 ribu orang. Akan tetapi dalam kurun waktu setahun terakhir, ada peningkatan mencapai 4 kali lipat yakni 1,25 juta orang dan sebagian besar dari adalah orang-orang di usia produktif.

Dari sekian banyak pilihan investasi yang ada di Indonesia, reksadana masih tetap menjadi primadona. Hal tersebut terjadi lantaran mudahnya melakukan penabungan saham dalam instrumen investasi tersebut. Kenapa? Karena bermunculan start up bagi mereka yang ingin memulai berinvestasi, contohnya Bareksa, Bibit.id hingga Ajaib.

Namun pertanyaan mulai bermunculan. Kenapa reksadana lebih banyak dan berkembang pesat digunakan dibandingkan dengan instrumen investasi lainnya seperti saham, modal ataupun pendapatan tetap? Ini dia jawaban selengkapnya!

Reksadana

Reksadana merupakan sekumpulan uang yang didapatkan dari beberapa investor. Uang tersebut kemudian dikelola oleh seorang manajer investasi yang bertugas untuk memberikan informasi mengenai jenis apa yang harus diambil. Hal tersebut dilakukan karena biasanya pengguna instrumen investasi ini adalah pemain baru dalam dunia saham.

Dengan kata lain, reksadana memang digunakan oleh mereka yang baru mulai terjun ke dunia saham. Jika menilik dari profil resiko, instrumen investasi ini ada dalam tahap rendah. Maksudnya, resiko yang diberikan kecil sehingga para pelaku tidak akan merugi terlalu banyak dan juga untung terlalu besar.

Seorang manajer investasi akan menjadi pengelola dari sekumpulan orang (penanam saham) untuk diberikan sesuai dengan portofolio masing-masing. Manajer investasi juga wajib memberikan informasi mengenai jenis yang boleh atau tidak boleh digunakan oleh para investor muslim yang biasanya terikat dalam aturan-aturan tertentu.

Diversifikasi

Balik ke pertanyaan awal, kenapa reksadana itu dianggap lebih minim resiko dibandingkan dengan instrumen lainnya? Jawabannya ada dalam satu kata yakni diversifikasi. Singkatnya, modal seorang pelaku investasi dalam reksadan didiversifikasikan atau disebar ke beberapa jenis portofolio yang berbeda.

Besaran dari persebaran modal tersebut akan beragam sesuai dengan modal yang kamu tanam sebelumnya. Biasanya, diversifikasi akan dilakukan ke dalam 3-5 jenis berbeda. Hal itu dilakukan untuk menghindari kerugian.

Manajer investasi akan menyebar ke beberapa jenis reksadana yang berbeda. Dengan begitu, apabila ada satu jenis yang mengalami kerugian maka jenis lainnya yang akan ‘menutup’ lubang tersebut dan menggantikan kerugian. Di satu sisi, hal ini memang membuat kerugian terminimalisir namun di sisi lain, keuntungan yang didapatkan juga pastinya akan berkurang.

Baca Juga: 5 Jenis Reksadana Saham Paling Menguntungkan, Ada yang Return 90%!

Beda dari Saham

Reksadana dipilih karena harga mereka yang murah karena bisa dimulai dengan nominal 100 ribu. Sedangkan, saham mungkin tidak akan menjadi pilihan bijak bagi mereka yang baru memulai hal ini. Kenapa? karena saham dibeli dengan harga yang cukup mahal.

Bayangkan saja, saham baru bisa dibeli sebanyak 1 lot (100 lembar). Setiap perusahaan memiliki harga saham perlembar dengan amat beragam. Di perusahaan bonafit, harga satu lembar saham bisa mencapai 10 ribu hingga 30 ribu. Bayangkan, berapa banyak yang harus dibutuhkan untuk satu saham di perusahaan saja?

Belum lagi, tidak ada kepastian keuntungan dari perusahaan tersebut. Di sisi lain, sangat mahal apabila kamu memutuskan untuk membeli saham di tempat lain dengan tingkat resiko yang sama-sama tidak menentu. Semuanya kembali kepada kamu, apakah kamu siap dengan resiko besar atau lebih bermain aman dengan diversifikasi?

Jawab di kolom komentar ya!

How useful was this post?

Click on a star to rate it!

We are sorry that this post was not useful for you!

Let us improve this post!

Tell us how we can improve this post?

Leave a reply:

Your email address will not be published.

Site Footer